Makalah Studi Teologi Islam Akal dan Wahyu
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ................................................................................................................... i
Daftar Isi.............................................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
A.
Latar
Belakang..................................................................................................
1
B.
Rumusan
Masalah..............................................................................................
1
C.
Tujuan
Masalah..................................................................................................
2
D.
Manfaat penulisan.............................................................................................
BAB II
PEMBAHASAN...................................................................................................
3
A.
Definisi Pengertian dan fungsi akal...................................................................
3
B.
Definisi Pengertian dan fungsi wahzu............................................................... 3
C.
Kedudukan akal dan wahzu.............................................................................. 6
BAB
III PENUTUP
A.
Simpulan ............................................................................................................ 12
B.
Saran .................................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Allah menciptakan
manusia sebagai makhluk yang penuh dengan kekurangan.Dalam semua sisi
kehidupan, kekurangan yang melekat pada manusia menyebabkan kemampuan yang
dimiliki menjadi sangat terbatas. Islam adalah agama yang sangat memperhatikan
peran dan fungsi akal secara optimal, sehingga akal dijadikan sebagai
standar seseorang diberikan beban taklif atau sebuah hukum.. Islam bahkan
menjadikan akal sebagai salah satu diantara lima hal primer yang diperintahkan
oleh syariah untuk dijaga dan dipelihara, dimana kemaslahatan dunia dan akhirat
amat disandarkan pada terjaga dan terpeliharanya kelima unsur tersebut, yaitu:
agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Agama
mengajarkan dua jalan untuk mendapatkan pengetahuan. Pertama, melalui
jalan wahyu, yakni melalui komunikasi dari Tuhan kepada/manusia, dan kedua
dengan jalan akal, yakni memakai kesan-kesan yang diperoleh panca indera sebagai
bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan. Pengetahuan yang diperoleh
melalui wahyu diyakini sebagai pengetahuan yang absolut, sementara pengetahuan
yang diperoleh melalui akal diyakini sebagai pengetahuan yang bersifat
relatif, yang memerlukan pengujian terus menerus, mungkin benar dan mungkin
salah (Harun Nasution, 1986: 1).
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apakah pengertian dan fungsi akal ?
2.
Apa pengertian dan fungsi wahyu?
3.
Bagaimana kedudukan antara akal dan
wahyu?
C.
Tujuan
Tujuan disusunnya
makalah ini untuk menjelaskan bahwa akal dan wahyu dalam kehidupan islam sangat
penting akal dan wahyu yang digunakan maqasid as-syari’ah atau
maslahah yang menekankan terjaminnya kebutuhan hidup manusia, dua di
antaranya adalah mewujudkan terjaganya al-‘aql (intellect), dan keyakinan
(ad-din). Dalam hal ini wahyu merupakan sumber pengetahuan yang
didasarkan kepada keimanan kepada Allah SWT.
D.
Manfaat
Penulisan
- Agar kita dapat dapat
mengetahui pengertian dari Akal dan wahyu.
- Agar dapat mengetaahui landasan
hukum akal dan wahyu.
- Agar dapat mengetahui hubungan
akal dengan wahyu.
BAB II
PEMBAHASAN AKAL DAN WAHYU
A. Pengertian dan fungsi akal
1. Pengertian akal
Akal
berasal dari bahasa Arab ‘aqala-ya’qilu’ yang secara lughawi memiliki banyak
makna, sehingga kata al ‘aql sering disebut sebagai lafazh musytarak, yakni
kata yang memiliki banyak makna. Dalam kamus bahasa Arab al-munjid fi al-lughah
wa al a’lam, dijelaskan bahwa ‘aqala memiliki makna adraka (mencapai,
mengetahui), fahima (memahami), tadarabba wa tafakkara (merenung dan berfikir).
Kata al-‘aqlu sebagai mashdar (akar kata) juga memiliki arti nurun nuhaniyyun
bihi tudriku al-nafsu ma la tudrikuhu bi al-hawas, yaitu cahaya ruhani yang
dengannya seseorang dapat mencapai, mengetahui sesuatu yang tidak dapat dicapai
oleh indera. Al-‘aql juga diartikan al-qalb, hati nurani atau hati
sanubari.
Pengaruh filsafat Yunani terhadap filosof-filosof muslim terlihat dalam
pendapat mereka tentang akal yang dipahami sebagai salah satu daya dari
jiwa (an-nafs/ ar-ruh) yang terdapat dalam diri manusia. Seperti Al-Kindi
(796-873) yang terpengaruh Plato, menjelaskan bahwa pada jiwa manusia terdapat
tiga daya, daya bernafsu (al-quwwah asy-syahwatiyah) yang berada di perut, daya
berani (al-quwwah al-ghadabiyyah) yang bertempat di dada dan daya
berfikir (al-quwwah an-natiqah) yang berpusat di kepala. Sementara itu, di
kalangan teolog muslim, mengartikan akal sebagai daya untuk memperoleh
pengetahuan, seperti pendapat Abu al-Huzail, akal adalah daya untuk
memperoleh pengetahuan, daya yang membuat seseorang dapat
membedakan dirinya dengan benda-benda lain, dan mengabstrakkan benda-benda yang
ditangkap oleh panca indera.
Dengan demikian akal dalam pengertian Islam,
bukanlah otak, akan tetapi daya berfikir yang terdapat dalam jiwa
manusia, daya untuk memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam
sekitarnya. Dalam pengertian inilah akal yang dikontraskan dengan wahyu yang
membawa pengetahuan dari luar diri manusia, yakni dari Allah SWT.
2.
Fungsi Akal
Dalam
hubungan dengan upaya memahami islam, akal memiliki fungsi yaitu sebagai
berikut:
- Sebagai alat yang strategis untuk mengungkap dan
mengetahui kebenaran yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosul,
dimana keduanya adalah sumber utama ajaran Islam.
- Merupakan potensi dan modal yang melekat pada diri
manusia untuk mengetahui maksud yang tercakup dalam pengertian Al-Qur’an
dan Sunnah Rosul.
- Sebagai alat yang dapat menangkap pesan dan semangat
Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan acuan dalam mengatasi dan memecahkan
persoalan umat manusia dalam bentuk ijtihat.
- Untuk menjabarkan pesan yang terkandung dalam Al-Quran
dan Sunnah dalam kaitannya dengan fungsi manusia sebagai khalifah Allah,
untuk mengelola dan memakmurkan bumi dan seisinya.
- Sebagai tolak ukur akan kebenaran dan kebatilan.
- Sebagai alat untuk mencerna berbagai hal dan cara
tingkah laku yang benar.
- Sebagai Alat penemu solusi ketika permasalahan datang.
Namun
demikian, bagaimana pun hasil akhir pencapaian akal tetaplah relatif dan
tentatif. Untuk itu, diperlukan adanya koreksi, perubahan dan penyempurnaan
teru-menerus.
B. Pengertian dan fungsi wahzu
1.Pengertian wahzu
Arti wahyu dari segi bahasa adalah
petunjuk yang di sampaikan secara sembunyi, atau dengan kata lain wahyu
tersebut menggunakan metode sembunyi-sembunyi dalam penyampaiannya. Pengertian
wahyu Menurut syara' wahyu adalah pemberitahuan Allah SWT kepada orang yang
dipilih dari beberapa hamba-Nya mengenai beberapa petunjuk dan ilmu pengetahuan
yang hendak diberitahukannya tetapi dengan cara yang tidak biasa bagi manusia,
baik dengan perantaraan atau tidak dengan perantaraan.
Lafazh "wahyu'' ini menunjukkan
bahwa penyampaian berita dari Allah Swt kepada Rasulullah SAW menggunakan
metode khusus.Hal itu dapat dibuktikan dengan digunakannya metode
sembunyi-sembunyi, keakuratan, dan tidak memungkinkannya orang lain untuk dapat
mengetahui atau bahkan untuk sekedar merasakannya.
Metode wahyu
ini bukanlah satu-satunya cara yang digunakan oleh Allah Swt untuk menyampaikan
kalimat-Nya kepada penutup para nabi, Muhammad saw. Akan tetapi selain itu terdapat metode-metode lain
yang lebih umum sebagaimana yang pernah dijalani oleh para utusan-Nya yang lain
dalam memperoleh kitab dari-Nya
Menuurut
bahasa, wahyu mempunyai beberapa arti, antara lain sebagai berikut:
a) Berarti ilham gharizi atau instink yang terdapat pada manusia atau binatang.
Contohnya, seperti kata wahyu yang terdapat firman Allah SWT:
a) Berarti ilham gharizi atau instink yang terdapat pada manusia atau binatang.
Contohnya, seperti kata wahyu yang terdapat firman Allah SWT:
وَأَوْحَىٰ
رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ
ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُون
,
Artinya: "Dan Tuhanmu
telah mewahyukan (memberi instink) kepada lebah,
supaya membuat (sarang-sarang) di bukit-bukit, di pohon-pohon, kaydan di
(rumah-rumah) yang didirikan (manusia)." (Q.S. An-Nahl: 68)
supaya membuat (sarang-sarang) di bukit-bukit, di pohon-pohon, kaydan di
(rumah-rumah) yang didirikan (manusia)." (Q.S. An-Nahl: 68)
b) Berarti ilham
fitri atau firasat yang hanya ada pada manusia dan tidak pada
binatang. Contohnya seperti kata wahyu dalam firman Allah SWT:
binatang. Contohnya seperti kata wahyu dalam firman Allah SWT:
وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ أَرْضِعِهِ
Artinya:
"Dan kami ilhamkan (berfirasat) kepada ibu nabi musa supaya menyusui dia
(Musa)." (Q.S. Al-Qashash: 7)
"Dan kami ilhamkan (berfirasat) kepada ibu nabi musa supaya menyusui dia
(Musa)." (Q.S. Al-Qashash: 7)
c) Berarti tipu daya dan bisikan setan, seperti arti kata wahyu
dalam firman Allah
SWT:
وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَٰدِلُوكُمْ
SWT:
وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَٰدِلُوكُمْ
Artinya:
"Dan sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawan mereka
agar mereka membantah kalian." (Q.S. Al-An'am: 121)
"Dan sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawan mereka
agar mereka membantah kalian." (Q.S. Al-An'am: 121)
d) Berarti isyarat yang cepat secara
rahasia, yang hanya tertuju pada Nabi/ Rasul
saja. Contohnya seperti arti kata wahyu dalam firman Allah SWT:
إِنَّآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ كَمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ نُوحٍ وَٱلنَّبِيِّۦنَ مِنۢ بَعْدِهِ
saja. Contohnya seperti arti kata wahyu dalam firman Allah SWT:
إِنَّآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ كَمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ نُوحٍ وَٱلنَّبِيِّۦنَ مِنۢ بَعْدِهِ
Artinya:
"Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu, sebagaimana kami
telah memberikan wahyu kepada Nabi Nuh dan nabi-nabi sesudahnya."
(Q.S. An-Nisa: 163)
"Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu, sebagaimana kami
telah memberikan wahyu kepada Nabi Nuh dan nabi-nabi sesudahnya."
(Q.S. An-Nisa: 163)
Arti keempat inilah yang relevan dengan
pengertian wahyu menurut istilah
dalam pembahasan disini.
dalam pembahasan disini.
Dan definisi antara keduanya sangat mirip dengan
pengertian wahyu menurut kaum orientalis, yang menuduh bahwa wahyu itu hanyalah
berupa angan-angan dari dalam diri Nabi sendiri. Tuduhan itu tidak tepat. Sebab
wahyu itu adalah sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Ustadz Muhammad
Abduh mendefinisikan ilham ialah intuisi yang diyakini oleh jiwa yang mendorong
untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa sadar dari mana datangnya, hal dan
senang.
2.Fungsi Wahyu
Firqah-firqah dalam Islam mempunyai
sikap yang berbeda berkaitan dengan fungsi wahyu. Perbedaan itu dapat diketahui
dari jawaban-jawaban mereka terhadap empat pertanyaan;
1. Dapatkah akal mengetahui adanya
Tuhan ?
2. Kalau ya,
apakah akal mengetahui kewajiban berterima kasih kepada tuhan
3.
Dapatkah akal mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk.
4. Kalau ya,
apakah akal dapat mengetahui wajib bagi manusia berbuat baik dan menjahui
perbuatan jahat?
C.Kedudukan akal dan wahzu dalam islam
Kedudukan
antara wahyu dalam islam sama-sama penting. Karena islam tak akan terlihat
sempurna jika tak ada wahyu maupun akal. Dan kedua hal ini sangat berpengaruh
dalam segala hal dalam islam. Dapat dilihat dalam hukum islam, antar wahyu dan
akal ibarat penyeimbang. Andai ketika hukum islam berbicara yang identik dengan
wahyu, maka akal akan segerah menerima dan mengambil kesimpulan bahwa hal
tersebut sesuai akan suatu tindakan yang terkena hukum tersebut.karena
sesungguhnya akal dan wahyu itu memiliki kesamaan yang diberikan Allah namun
kalau wahyu hanya orang-orang tertentu yang mendapatkanya tanpa seorangpun yang
mengetahu, dan akal adalah hadiah terindah bagi setiap manusia yang diberikan
Allah.
Dalam
Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian bukan berartiakal
diberi kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan
untuk menempatkan akal sebagaimana
mestinya. Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalucocok dengan syariat
islam dalam permasalahan apapun. Dan Wahyu
baik berupa Al-qur’an dan Hadits bersumber dari Allah SWT, pribadi NabiMuhammad SAW yang menyampaikan wahyu ini,
memainkan peranan yang sangat penting dalam turunnya wahyu. Wahyu mmerupakan perintah yang berlaku umum atas
seluruh umat manusia, tanpamengenal ruang dan waktu, baik perintah itu
disampaikan dalam bentuk umum ataukhusus.Apa yang dibawa oleh wahyu tidak ada yang bertentangan dengan akal,
bahkan ia sejalan dengan prinsip-prinsip akal. Wahyu itu merupakan satu kesatuan yang lengkap, tidak terpisah-pisah.Wahyu itu menegakkan hukum menurut kategori
perbuatan manusia. baik perintah maupun larangan. Sesungguhnya wahyu yang berupa al-qur’an dan as-sunnah turun secara
berangsur-angsur dalam rentang waktu yang cukup panjang.
Namun tidak selalu mendukung antara wahyu dan akal, karena seiring
perkembangan zaman akal yang semestinya mempercayai wahyu adalah sebuah anugrah
dari Allah terhadap orang yang terpilih, terkadang mempertanyakan keaslian
wahyu tersebut. Apakah wahyu itu benar dari Allah ataukah hanya pemikiran
seseorang yang beranggapan smua itu wahyu. Seperti pendapat Abu Jabbar bahwa akal tak dapat
mengetahui bahwa upah untuk suatu perbuatan baik lebih besar dari pada upah
yang ditentukan untuk suatu perbuatan baik lain, demikian pula akal tak mengetahui
bahwa hkuman untuk suatu perbuatan buruk lebih besar dari hukuman untuk suatu
perbuatan buruk yang lain. Semua itu hanya dapat diketahui dengan perantaraan
wahyu. Al-Jubbai berkata wahyulah yang menjelaskan perincian hukuman dan upah
yang akan diperoleh manusia di akhira
Karena
Masalah akal dan wahyu dalam pemikiran kalam sering dibicarakan dalam konteks,
yang manakah diantara kedua akal dan wahyu itu yang menjadi sumbr pengetahuan
manusia tentang tuhan, tentang kewajiban manusia berterima kasih kepada tuhan,
tentang apa yang baik dan yang buruk, serta tentang kewajiban menjalankan yang
baik dan menghindari yang buruk. Maka para aliran islam memiliki pendapat
sendiri-sendiri antra lain:
a.Aliran Mu’tazilah sebagai penganut
pemikiran kalam tradisional, berpendapat bahwa akal mempunyai kemampuan
mengetahui empat konsep tersebut.
b.Sementara itu aliran Maturidiyah
Samarkand yang juga termasuk pemikiran kalam tradisional, mengatakan juga
kecuali kewajiban menjalankan yang baik dan yang buruk akan mempunyai kemampuan
mengetahui ketiga hal tersebut.
c.Sebaliknya aliran Asy’ariyah,
sebagai penganut pemikiran kalam tradisional juga berpendapat bahwa akal hanya
mampu mengetahui tuhan sedangkan tiga hal lainnya, yakni kewajiban berterima
kasih kepada tuhan, baik dan buruk serta kewajiban melaksanakan yang baik dan
menghindari yang jahat diketahui manusia berdasarkan wahyu.
d.Sementara itu aliran maturidiah
Bukhara yang juga digolongkan kedalam pemikiran kalam tradisional berpendapat
bahwa dua dari keempat hal tersebut yakni mengetahui tuhan dan mengetahui yang
baik dan buruk dapat diketahui dngan akal, sedangkan dua hal lainnya yakni
kewajiaban berterima kasih kepada tuhan serta kewajiban melaksanakan yang baik
serta meninggalkan yang buruk hanya dapat diketahui dengan wahyu.
Adapun
ayat-ayat yang dijadikan dalil oleh paham Maturidiyah Samarkand dan mu’tazilah,
dan terlebih lagi untuk menguatkan pendapat mereka adalah surat as-sajdah,
surat al-ghosiyah ayat 17 dan surat al-a’rof ayat 185. Di samping itu, buku
ushul fiqih berbicara tentang siapa yang menjadi hakim atau pembuat hukum
sebelum bi’sah atau nabi diutus, menjelaskan bahwa Mu’tazilah berpendapat
pembuat hukum adalah akal manusia sendiri. dan untuk memperkuat pendapat mereka
dipergunakan dalil al-Qur’an surat Hud ayat 24.Sementara itu aliran kalam
tradisional mngambil beberapa ayat Al-qur’an sebagai dalil dalam rangka
memperkuat pendapat yang mereka bawa . ayat-ayat tersebut adalah ayat 15 surat
al-isro, ayat 134 surat Taha, ayat 164 surat An-Nisa dan ayat 18 surat Al-Mulk.
Dalam menangani hal tersebut banyak
beberapa tokoh dengan pendapatnya memaparkan hal-hal yang berhubungan antara
wahyu dan akal. Seperti Harun Nasution menggugat masalah dalam berfikir
yang dinilainya sebagai kemunduran umat islam dalam sejarah. Menurut beliau
yang diperlukan adalah suatu upaya untuk merasionalisasi pemahaman umat islam
yang dinilai dogmatis tersebut, yang menyebabkan kemunduran umat islam karena
kurang mengoptimalkan potensi akal yang dimiliki. bagi Harun Nasution
agama dan wahyu pada hakikatnya hanya dasar saja dan tugas akal yang akan
menjelaskan dan memahami agama tersebut.
BAB V
PENUTUP
Akal
memiliki kedudukan yang penting dalam ajaran Islam, bahkan dijadikan sebagai dasar
dan sumber hukum setelah Al-Qur’an dan Hadist. Akal sebagai dasar disebut
ar-rakyu yang dilakukan melalui ijtihad.
Wahyu
turun kepada nabi-nabi melalui tiga cara, yaitu dimasukan langsung ke dalam
hati dalam bentuk ilham, dari belakang tabir, dan melalui utusan dalam bentuk
malaikat. Bisa dibayangkan apabila Allah SWT. tidak memberikan wahyu kepada
manusia melalui rasul-Nya niscaya umat manusia akan tersesat.
Wahyu
mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada akal, karena wahyu membawa kebenaran
hakiki/mutlak, sedangkan akal memberikan kebenaran yang relative.
Dari uraian di atas dapatlah kiranya disimpulkan bahwa
wahyu bagi Mu’tazilah mempunyai fungsi untuk informasi dan konfirmasi,
memperkuat apa-apa yang telah diketahui akal dan menerangkan apa-apa yang belum
diketahui akal. Dan demikian menyempurnakan pengtahuan yang telah diperoleh
akal.Bagi kaum Asy’ariyah akal hanya dapat mengetahui adanya tuhan saja, wahyu
mempunyai kedudukan yang sangat penting.
DAFTAR PUSTAKA
An
Nahlawi, Abdurrahman, (1983), Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat,
Gema Insani Press, Jakarta.
Hadhiri,
Choiruddin, (1994), Klasifikasi Kandungan Al-Qur’an, Gema Insani Press,
Jakarta.
Yunan
Yusuf, M, Alam Pemikiran Islam Pemikiran Kalam, Jakarta; Perkasa Jakarta
1990.
NasutinHarun, TEOLOGI
ISLAM, UNIVERSITAS INDONESIA, 1986
Komentar
Posting Komentar