Makalah Biaya Overhead Pabrik (BOP)
MAKALAH
AKUNTANSI BIAYA
Dosen Pengampu :
Susanti, S.Pd., M.Pd
KELOMPOK 4
Disusun
oleh :
Bayu Putra
Setiawan (1696144006)
Dini Luthfiana (1696144008)
Dias
Eksa Cendekia (1696144012)
Rani Suzika
(1696144068)
UNIVERSITAS HASYIM ASY’ARI
PRODI
MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
2017
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan
kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang telah dilimpahkan-Nya,
Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik, yang bertemakan
tentang ” BOP ” .
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas yang diberikan
oleh ibu dosen kami. Kami menyadari bahwa makalah yang kami selesaikan ini
masih jauh dari kesempurnaan. Seperti halnya pepatah mengatakan, “tak ada
gading yang tak retak“,
oleh karena itu kami mengharapkan
kritik dan saran dari semua kalangan yang bersifat membangun guna kesempurnaan
makalah yang selanjutnya.
Akhir kata, kami ucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah
ini, dari awal sampai akhir. Serta kami berharap agar makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua kalangan.
Amin.
Jombang, September 2017
Kelompok 4
DAFTAR ISI
Cover .............................................................................................................................
Kata
pengantar.......................................................................................................................
Daftar isi.........................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN.............................................................................................
1.1 Latar
Belakang..........................................................................................................
1.2 Rumusan
Masalah.....................................................................................................
1.3 Tujuan.......................................................................................................................
BAB II
PEMBAHASAN..............................................................................................
2.1 Pengertian
BOP........................................................................................................
2.2
Pengolongan BOP....................................................................................................
2.3
Langkah-langkah penentuan tarif BOP....................................................................
2.4
Pengumpulan BOP sesungguhnya............................................................................
2.5 Analisis
selisih BOP..................................................................................................
2.6
Perlakuan terhadap BOP yang kurang/lebih
dibebankan........................................
BAB III
PENUTUP.......................................................................................................
3.1 Kesimpulan...............................................................................................................
3.2 Saran.........................................................................................................................
Daftar
Pustaka................................................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Proses produksi di perusahaan industri memerlukan
penanganan yang spesifik karena
tergantung dari berbagai pesanan yang diterima, yang bervariasi antara pesanan
yang satu dengan pesanan yang lain. Pesanan yang satu harus dipisahkan
identitasnya dari pesanan yang lain, sehingga manajemen membutuhkan informasi
harga pokok tiap-tiap pesanan secara individual.Karena adanya karakteristik
yang cukup unik ini , maka timbullah suatu permasalahan yang seringkali
dihadapi oleh perusahaan pembuatan kemasan plastik, yaitu masalah dalam
penetapan harga jual produk. Dalam perusahaan yang melakukan produksi
berdasarkan pesanan, harga jual ditetapkan sebelum proses produksi dimulai atau
harga jual ditentukan dimuka. Harga jual ditetapkan dimuka ini memegang
peranan penting dalam terjadinya
transaksi penjualan di perusahaan, karena suatu pesanan dinyatakan diterima
atau ditolak setelah adanya kesepakatan, barulah kemudian pesanan tersebut dikerjakan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa diperlukan suatu penanganan yang serius
dalam proses penetapan harga jual dimuka pada perusahaan ini.
Perusahaan
yang produksinya berdasarkan pesanan, seringkali menghadapi masalah dalam
menjalankan usahanya, diantaranya masalah penetapan harga jual. Harga jual
tersebut harus ditentukan dimuka sebelum proses produksi itu sendiri dimulai.
Untuk memecahkan masalah tersebut,perusahaan memerlukan perhitungan harga pokok
produksi dengan sistem biaya yang ditentukan dimuka.Dalam rangka memperoleh
perhitungan harga pokok produksi yang tepat dan benar untuk setiap produk
pesanan,maka perusahaan membutuhkan suatu metode akuntansi biaya produksi
berdasarkan (job order costing method) .Dengan harapan melalaui metode ini manajemen akan dapat
memperoleh informasi harga pokok pesanan
yang akurat, yang bermanfaat dalam menentukan harga jual yang efektif yang akan
dibebankan kepada pemesan.
1.2
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa itu
pengertian BOP?
2.
Apa saja
pengolongan BOP?
3.
Apa itu
langkah-langkah penentuan tarif BOP?
4.
Apa itu
analisis selisih BOP?
5.
Apa yang
dimaksud dengan perlakuan terhadap BOP yang kurang/lebih dibebankan?
1.3
TUJUAN
1.
Dapat
mengetahui tentang pengertian BOP
2.
Dapat
mengetahui apa saja pengolongan BOP
3.
Dapat
mengetahui apa saja langkah-langkah penetuan tarif BOP
4.
Dapat
memahami apa itu analisis selisih BOP
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 BIAYA
OVERHEAD PABRIK
- PENGERTIAN
BOP
biaya
overhead pabrik (BOP) adalah biaya produksi yang tidak langsung terhadap
produk. BOP merupakan biaya produksi yang tidak masuk dalam biaya bahan baku
maupun biaya tenaga kerja. contoh biaya BOP adalah biaya yang timbul dari
pemakaian bahan penolong, pengawas mesin produksi, mandor,sewa,pajak, asuransi,
depresiasi, penerangan tenga (listrik) yang digunakan untuk fasilitas produksi.
2. PENGERTIAN BOPPENGHITUNGAN BOP
dasar penghitungan tarip BOP.
pembebanan BOP dapat dilakukan berdasarkan pemacu biaya (cost driver) yaitu volume activity atau berdasarkan non volume activity. dengan menggunakan volume activity tarip BOP dibagi dengan jumlah volume aktivitas.
Dasar (cost driver)
yang termassuk volume aktivitas.
2. PENGERTIAN BOPPENGHITUNGAN BOP
dasar penghitungan tarip BOP.
pembebanan BOP dapat dilakukan berdasarkan pemacu biaya (cost driver) yaitu volume activity atau berdasarkan non volume activity. dengan menggunakan volume activity tarip BOP dibagi dengan jumlah volume aktivitas.
Dasar (cost driver)
yang termassuk volume aktivitas.
-
jam mesin
TARIP =
anggaran BOP pada kapasitas normal
Taksiran jam mesin
Taksiran jam mesin
- biaya
bahan baku
TARIP = estimasi
BOP x 100%
estimasi biaya bahan
estimasi biaya bahan
- unit
produksi
- biaya
tenaga kerja langsung
TARIP= anggaran
BOP x 100%
estimasi BTKL
estimasi BTKL
- jam
kerja langsung
TARIP =anggaran
BOP x 100%
estimasi JKL
3. KONSEP KAPASITAS.
a. kapasitas teoritis
yaitu output maksimum yang dapat dicapai secara mutlak dengan anggapan semua beroperassi secara sempurna.
b. kapasitas praktis
yaitu output maksimum pada departemen yang beroperasi secara efisien .
c. kapisitas normal.
yaitu penyempurnaan kelemahan a konsep diatas. merupakan dasat yang baik dan tepat untuk memperhitungkan besarnya BOP.
d. kapasitas yang diharapkan
yaitu merupakan rencan produksi yang penting untuk memenuhi kebutuhan penjualan pada tahun yang akan datang.
dukung yang sangat penting bagi kegiatan produksi. aktivitasnya tidak secara langsung memproses produk. contoh departemen jasa pada perusahaan pabrikasi adalah departemen penangananbahan, departemen bengkel
4.ALOKASI BIAYA DEPARTEMEN JASA KE DEPARTEMEN PRODUKSI
departemen produksi adalah departemen yang bertanggungjawab secara langsung terhadap proses produksi atau proses pembuatan produk atau jasa yang akan dijual ke konsumen. departemen produksi merupakan departemen yang mengolah bahan secara langsung menjadi produk jadi. contoh departemen prtoduksi pada rumah sakit umum (RSU) adalah unit gawat darurat, dan bagian operasi.pada perusahaan pabrikasi departemen produksinya adalah departemen pembentukan, departemen perakitan, departemen penyelesaian, departemen pengepakan..
departemen jasa adalah departemen yang menghasilkan jasa penl, departemen pembangkit listrik, departemen perawatan gedung.biaya yang timbul didepartemen jasa merupakan bagian dari biya produk yang harus dibebankan atas produk. karena biaya-biaya tersebut termasuk BOP maka biaya tersebut harus di bebankan ke produk. pembebanan biaya ke produk dapat dilakukan melalui dua tahap yaitu:
estimasi JKL
3. KONSEP KAPASITAS.
a. kapasitas teoritis
yaitu output maksimum yang dapat dicapai secara mutlak dengan anggapan semua beroperassi secara sempurna.
b. kapasitas praktis
yaitu output maksimum pada departemen yang beroperasi secara efisien .
c. kapisitas normal.
yaitu penyempurnaan kelemahan a konsep diatas. merupakan dasat yang baik dan tepat untuk memperhitungkan besarnya BOP.
d. kapasitas yang diharapkan
yaitu merupakan rencan produksi yang penting untuk memenuhi kebutuhan penjualan pada tahun yang akan datang.
dukung yang sangat penting bagi kegiatan produksi. aktivitasnya tidak secara langsung memproses produk. contoh departemen jasa pada perusahaan pabrikasi adalah departemen penangananbahan, departemen bengkel
4.ALOKASI BIAYA DEPARTEMEN JASA KE DEPARTEMEN PRODUKSI
departemen produksi adalah departemen yang bertanggungjawab secara langsung terhadap proses produksi atau proses pembuatan produk atau jasa yang akan dijual ke konsumen. departemen produksi merupakan departemen yang mengolah bahan secara langsung menjadi produk jadi. contoh departemen prtoduksi pada rumah sakit umum (RSU) adalah unit gawat darurat, dan bagian operasi.pada perusahaan pabrikasi departemen produksinya adalah departemen pembentukan, departemen perakitan, departemen penyelesaian, departemen pengepakan..
departemen jasa adalah departemen yang menghasilkan jasa penl, departemen pembangkit listrik, departemen perawatan gedung.biaya yang timbul didepartemen jasa merupakan bagian dari biya produk yang harus dibebankan atas produk. karena biaya-biaya tersebut termasuk BOP maka biaya tersebut harus di bebankan ke produk. pembebanan biaya ke produk dapat dilakukan melalui dua tahap yaitu:
- pengalokasian
biaya departemen jasa ke departemen produksi;
- pembebanan
biaya ke produk.
pengalokasian biaya-biaya yang terjadi didepatemen jasa ke departemen produksi memiliki tujuan untuk:
- penentuan
harga produk
- menghitung
profitabilitas tiap jenis produk ( product line)
- memprediksi
efek ekonomi dari perencanaan dan pengendaliaan
- menilai
persediaan
- memotivasi
menejer
5.
dasaralokasi
biaya yang terjadi didepartemen jasa dialaokasikan ke departen-departemen yang menikmati jasanya. sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya departemen jasa dapat berupa jumlah pemakaian jasa, luasa lantai dan yang lainnya. dasar alokasi dipilah apakah menunjukan adanya hubungan yang jelas antara jumlah jasa yang dinikmati dengan jumlah biaya yang timbul. misal pembebanan biaya departemen tenaga listrik ke departemen yang menikmatinya, berdasarkan jumlah KWH yang dipakai. seandainya departemen A mengkonsumsi jasa departemen tenaga listrik sebesar 100 KWH sedang tarip 1 KWH sama dengan Rp 45,00 maka terhadap departemen A tersebut dibebani biaya alokasi sebesar 100 KWHRp45,00=Rp4.500,00
6.METODE PENGHITUNGAN ALOKASI BIAYA
biaya yang terjadi didepartemen jasa dialaokasikan ke departen-departemen yang menikmati jasanya. sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya departemen jasa dapat berupa jumlah pemakaian jasa, luasa lantai dan yang lainnya. dasar alokasi dipilah apakah menunjukan adanya hubungan yang jelas antara jumlah jasa yang dinikmati dengan jumlah biaya yang timbul. misal pembebanan biaya departemen tenaga listrik ke departemen yang menikmatinya, berdasarkan jumlah KWH yang dipakai. seandainya departemen A mengkonsumsi jasa departemen tenaga listrik sebesar 100 KWH sedang tarip 1 KWH sama dengan Rp 45,00 maka terhadap departemen A tersebut dibebani biaya alokasi sebesar 100 KWHRp45,00=Rp4.500,00
6.METODE PENGHITUNGAN ALOKASI BIAYA
- metode langsung merupakan
metode yang sederhana.semua biaya yang terjadi didepartemen jasa secara
langsung dialokasikan kedepartemen produksi. metode ini mengabaikan
pemakaian jasa oleh departemen lain. meskipun terjadi suatu departemen
jasa menikmati departemen jasa lainnya, namun terhadap departemen tersebut
tidak dibebani biaya pemakain jasa.
- metode step-down
merupakan mengalukasian biaya secara bertahap. metode ini telah
memperhitungkan adanya pemakaina jasa oleh departemen lainnya. oleh karena
itu departemen yang menikmati jasanya harus dibebani biaya .departemen
yang telah mengalokasikan semua biayanya tidak mendapat alokasi biaya dari
departemen lain. umumnya urutan alokasi dilakukan terlebih dahulu dari
departemen yang jumlah biayanya paling besar atau dari departemen jasa yang
jasanya paling banyak digunakan oleh departemen lain.
- metode resiprokal
merupakan metode yang mengalokasikan semua biaya yang terjadi didepartemen
jasa kepada semua departemen lain yang menikmati.selain dialokasikan
kedepartemen produksi, biaya yang terjadi didepartemen jasa juga
dialokasikan ke departemen jasa lain. metode ini dilakukan secra manual,
pengalokasian biaya dilakukan berulang-ulang, karena departemen jasa yang
telah dialokasikan biayanya akan menerima alokasi biaya departemen jasa
yang lain. pengalokasian yang berulang- ulang tersebut dapat dihindari
dengan menyelesaikan persamaan
matematika.
j1 = Jsa1 + aJ2 + bJ3
j2 = Jsa2 + cJ1 + dJ3
p1 = Psa1 + gJ1 + hj2
p2 = Psa2 + iJ2 + jJ2
keterangan
J 1,2 = biaya departemen jasa 1, 2 (setelah mendapat alokasi dari departemen lain)
Jsa 1,2 = biaya departemen jasa sebelum menerima alokasi departemen lain.
Psa1,2 = biaya departemen produksi sebelum menerima alokasi departemen lain.
a,b...j = presentase alokasi.
j2 = Jsa2 + cJ1 + dJ3
p1 = Psa1 + gJ1 + hj2
p2 = Psa2 + iJ2 + jJ2
keterangan
J 1,2 = biaya departemen jasa 1, 2 (setelah mendapat alokasi dari departemen lain)
Jsa 1,2 = biaya departemen jasa sebelum menerima alokasi departemen lain.
Psa1,2 = biaya departemen produksi sebelum menerima alokasi departemen lain.
a,b...j = presentase alokasi.
2.2 Penggolongan Biaya Overhead Pabrik
PENGGOLONGAN BIAYA OVERHEAD PABRIK MENURUT SIFATNYA
Di dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, biaya overhead
pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja
langsung. Biaya-biaya produksi yang termasuk dalam biaya overhead pabrik,
dikelompokkan menjadi golongan berikut ini:
1. Biaya Bahan Penolong
Bahan penolong adalah bahan yang tidak menjadi bagian dari produk jadi atau
bahan yang meskipun menjadi bagian dari produk jadi, tetapi nilainya relatif
kecil apabila dibandingkan dengan harga pokok produk yang dihasilkan. Dalam
perusahaan percetakan, misalnya yang termasuk dalam bahan penolong, antara lain
bahan perekat, tinta koreksi, minyak pelumas
mesin cetak dan pita mesin ketik. Bahan penolong dalam perusahaan kertas
adalah soda, kaporit, tapioka, bahan warna, tylose, tawas, arpus, kaoline, dan
bahan-bahan kimia yang lain.
2. Biaya Reparasi dan Pemeliharaan
Biaya reparasi dan pemeliharaan berupa biaya suku cadang (spareparts) dan
biaya bahan habis pakai (factory suplies) atau persediaan yang lain
serta pembelian jasa dari pihak luar perusahaan untuk keperluan
perbaikan dan pemeliharaan emplasemen, perumahan bangunan pabrik,
mesin-mesin dan ekuipmen, kendaraan, perkakas laboratorium dan aktiva
tetap lain yang digunakan untuk keperluan pabrik.
3. Biaya Tenaga Kerja Tak Langsung
Tenaga kerja tak langsung adalah tenaga kerja pabrik yang upahnya tidak
dapat diperhitungkan secara langsung kepada produk atau pesanan tertentu. Biaya
tenaga kerja tak langsung terdiri dari upah, tunjangan dan biaya kesejahteraan
yang dikeluarkan untuk tenaga kerja tak langsung tersebut. Tenaga kerja tak
langsung terdiri dari:
a. Karyawan yang bekerja dalam departemen-departemen pembangkit departemen
pembantu, seperti tenaga listrik, uap, bengkel dan departemen gudang;
b. Karyawan tertentu yang bekerja dalam departemen produksi, seperti kepala departemen produksi, karyawan administrasi pabrik, dan mandor.
4. Beban Biaya yang Timhul sehagai Akibat Penilaian terhadap Aktiva Tetap
Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain: adalah
biaya-biaya depresiasi emplasemen pabrik, bangunan pabrik, mesin dan
ekuipmen, perkakas laboratorium, alat kerj a dan akti va tetap lain yang digunakan
di pabrik.
5. Beban Biaya Timhul sehagai Akibat Berlalunya Waktu
Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini, antara lain biaya-biaya
asuransi gedung dan emplasemen, asuransi mesin dan ekuipmen, asuransi
kendaraan, asuransi kecelakaan karyawan dan biaya amortisasi kerugian trial-run.
6. Biaya Overhead Pahrik Lain yang secara Langsung Memerlukan Pengeluaran
Uang Tunai
Biaya overhead pabrik yang termasuk dalam kelompok ini, antara lain biaya
reparasi yang diserahkan kepada pihak luar perusahaan, biaya listrik PLN.
PENGGOLONGAN BIAYA OVERHEAD PABRIK MENURUT PERILAKU DALAM HUBUNGAN DENGAN
PERUBAHAN VOLUME PRODUKSI
Ditinjau dari perilaku unsur-unsur biaya overhead pabrik dalam hubungannya
dengan perubahan volume kegiatan, biaya overhead pabrik dapat dibagi menjadi
tiga golongan, yaitu biaya overhead pabrik tetap, biaya overhead pabrik variabel dan biaya overhead pabrik semivariabel. Biaya overhead pabrik variabel
adalah biaya overhead pabrik yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya overhead pabrik tetap adalah biaya
overhead pabrik yang tidak berubah dengan adanya perubahan volume kegiatan
dalam kisar perubahan volume kegiatan tertentu. Biaya overhead pabrik
semivariabel adalah biaya overhead pabrik yang berubah tidak sebanding dengan
perubahan volume kegiatan. Untuk keperluan penentuan tarif biaya
overhead pabrik dan untuk pengendalian biaya, biaya overhead pabrik yang
bersifat semivariabel dipecah menjadi dua unsur: biaya tetap dan biaya
variabel.
C. PENGGOLONGAN BIAYA OVERHEAD PABRIK MENURUT HUBUNGANNYA DENGAN
DEPARTEMEN-DEPARTEMEN YANG ADA DALAM PABRIK
Jika di samping memiliki departemen produksi, perusahaan juga mempunyai
departemen-departemen pembantu (seperti departemen pembangkit tenaga listrik,
dan departemen bengkel) maka biaya overhead
pabrik meliputi juga semua jenis biaya yang terjadi di departemendepartemen
pembantu ini, yang meliputi biaya tenaga kerja, depresiasi, reparasi dan
pemeliharaan akti va tetap, dan asuransi.
Di tinjau dari hubungannya dengan departemen-departemen yang ada dalam
pabrik, biaya overhead pabrik dapat digolongkan menjadi dua kelompok: biaya
overhead pabrik langsung departemen (direct departemental overhead
expenses) dan biaya overhead tak langsung departemen (indirect departemental
overhead expenses). Biaya overhead pabrik langsung departemen adalah biaya
overhead pabrik yang terjadi dalam departemen tertentu dan manfaatnya hanya
dinikmatinya oleh departemen tersebut. Contoh biaya ini adalah gaji mandor
departemen produksi, biaya depresiasi mesin dan biaya bahan penolong. Biaya
overhead pabrik tak langsung departemen adalah biaya overhead pabrik yang
manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen. Contoh biaya overhead
pabrik ini adalah biaya depresiasi, pemeliharaan dan asuransi gedung pabrik (
catatan: gedung pabrik digunakan oleh beberapa departemen produksi).
2.3 LANGKAH –LANGKAH PENENTUAN TARIF BOP PER
DEPARTEMEN.
Langkah-langkah penentuan tariff BOP per departemen adalah sebagai berikut:
1.penyusunan anggaran BOP per departemen;
2.alokasi BOP departemen pembantu ke departemen produksi;
Ada dua macam metode alokasi BOP departemen pembantu:
a.metode alokasi langsung;
b.metode alokasi bertahap, yang terdiri dari:
1)metode alokasi kontinyu,
2)metode aljabar,
3)metode urutan alokasi yang diatur.
3.perhitungan tariff pembebanan tariff BOP per departemen.
Penyusunan anggaran BOP per departemen dibagi menjadi empat tahap:
1.penaksiran BOP langsung departemen atas dasar kapasitas yang direncanakan untuk tahun anggaran.
2.penaksiran BOP tak langsung departemen.
3.distribusi BOP tak langsung departemen ke departemen-departemen yang menikmati manfaatnya.
4.menjumlah BOP per departemen (baik BOP langsung maupun tak langsung departemen) untuk mendapatkan anggaran BOP per departemen (baik departemen produksi maupun departemen pembantu.
Contoh-contoh biaya tak langsung departemen dan dasar distribusi
Biaya tak langsung departemen dasar distribusi
------------------------------------------------ ------------------------------------------------------
Biaya depresiasi gedung meter persegi luas lantai
Biaya reparasi dan pemeliharaan gedung meter persegi luas lantai
Gaji pengawas departemen jumlah karyawan
Biaya angkut bahan baku biaya bahan baku
Pajak bumi dan bangunan (PBB) perbandingan harga pokok
aktiva tetap dalam tiap
departemen atau perbandingan
meter persegi luas lantai
Metode Alokasi Langsung.
Dalam metode alokasi langsung BOP departemen pembantu dialokasikan ke tiap-tiap departemen produksi yang menikmatinya. Metode alokasi langsung digunakan apabila jasa yang dihasilkan oleh departemen pembantu hanya dinikmati oleh departemen produksi saja.
CONTOH
PT Eliona Sari mengolah produknya melalui dua departemen produksi: Dept A dan Dept B, dan ditunjang oleh tiga departemen pembantu: Dept X, Dept Y, Dept Z. Anggaran BOP per departemen untuk tahun 2003 adalah Dept A Rp 2.175.000 ; Dept B Rp 2.620.000 ; Dept X Rp 771.000 Dept Y Rp 1.445.000 Dept Z Rp 369.000 jumlah Rp 7.380.000
Taksiran jasa departemen pembantu yang dipakai oleh departemen produksi dalam tahun 2003 tampak dalam table berikut ini:
Taksiran Pemakaian Jasa Departemen Pembantu
Oleh Departemen Produksi
PT. Eliona Sari
Taksiran Jasa Departemen-departemen Pembantu yang dipakai oleh
Departemen Produksi
Departemen Pembantu Departemen Produksi A Departemen Produksi B
Departemen Pembantu X 60% 40%
Departemen Pembantu Y 45% 55%
Departemen Pembantu Z 75% 25%
Dari data diatas maka dapat dilakukan alokasi BOP dari dept pembantu ke dept produksi sebagai berikut:
PT Eliona Sari
Alokasi BOP Departemen Pembantu ke Departemen Produksi
Keterangan Departemen Produksi Departemen Pembantu
____________________________________________________
A B X Y Z
Jumlah BOP Rp 2.175.000 RP2.620.000 Rp771.000 Rp1.445.000 Rp 369.000
__________ ___________
Alokasi BOP
Dept Z Rp276.750 Rp92.250 (Rp369.000)
Alokasi BOP
Dept Y Rp650.250 Rp794.750 (Rp1.445.000)
Alokasi BOP
Dept X Rp462.600 Rp308.400 (Rp771.000)
_________ __________ __________ ___________ _________
Jumlah alokasi
BOP dari dept
Pembantu Rp1.389.600 Rp1.195.400 0 0 0
________________________ ======= ======= =======
Jumlah BOP dept
Produksi setelah
Menerima alokasi
BOP dari dept Rp3.564.600 Rp3.815.400
pembantu
Cara menghitungnya adalah sebagai berikut:
276.750 diperoleh dari 75% X 369.000
92.250 diperoleh dari 25% X 369.000
selanjutnya silahkan anda menghitung sendiri, dan jika masih kurang jelas bisa bertanya melalui forum.
METODE ALOKASI ALJABAR.
Dalam metode ini, jumlah biaya tiap-tiap departemen pembantu dinyatakan dalam persamaan aljabar.
CONTOH
BOP langsung dan tak langsung departemen-departemen pembantu dan produksi selama tahun 2003 anggaran diperkirakan sebagai berikut:
Departemen Produksi
Departemen A Rp 9.000.000
Departemen B Rp15.000.000
Departemen Pembantu
Departemen X Rp3.000.000
Departemen Y Rp5.000.000
Jasa yang dihasilkan departemen pembantu dibagikan menurut proporsi sebagai berikut:
Jasa Departemen Dipakai
____________________________________________________
Departemen Pembantu Departemen Produksi
______________________ __________________________
Dept. X Dept. Y Dept. A Dept..B
______________________ __________________________
Jasa Departemen X - 10% 65% 25%
Jasa Departemen Y 20% - 45% 35%
Dari contoh diatas, misalkan:
X = jumlah biaya dept X setelah menerima alokasi biaya dari dept Y.
Y = jumlah biaya dept Y setelah menerima alokasi biaya dari dept X
Sehingga persamaannya adalah:
X = 3.000.000 + 0,20Y
Y = 5.000.000 + 0,10X
Dua persamaan tersebut dapat diselesaikan lebih lanjut sebagai berikut:
X =3.000.000 + 0,20Y
X = 3.000.000 + 0,20 (5.000.000 + 0,10X)
X = 3.000.000 + 1.000.000 + 0,02X
X – 0,02 X = 3.000.000 + 1.000.000
0,98 X = 4.000.000
4.000.000
X = __________ = 4.081.633
0,98
Y = 5.000.000 + 0,10 X
= 5.000.000 + 408.163
Y = 5.408.163
=========
Sehingga alokasi BOP dept pembantu ke dept produksi dilakukan seperti berikut ini:
Departemen Pembantu Departemen Produksi
_____________________________________________________
Departemen X Departemen Y Departemen A Departemen B
BOP langsung dan
Tak langsung
Dept Rp3.000.000 Rp5.000.000 Rp9.000.000 Rp15.000.000
Alokasi BOP
Dept X (Rp4.081.633) Rp 408.163 Rp2.653.061 Rp1.020.408
Alokasi BOP
Dept Y Rp1.081.632 (Rp5.408.163) Rp2.433.673 Rp1.892.857
______________________________________________________
Jumlah Rp 0 Rp 0 Rp14.086.734 Rp17.913.265
=========== ========= =========== ==========
Perhitungan:
2.653.061 = 65% x 4.081.633
1.020.408 = 25% x 4.081.633
2.433.673 = 45% x 5.408.163
1.892.857 = 35% x 5.408.163
selebihnya silahkan hitung sendiri.
Dalam metode ini, jumlah biaya tiap-tiap departemen pembantu dinyatakan dalam persamaan aljabar.
CONTOH
BOP langsung dan tak langsung departemen-departemen pembantu dan produksi selama tahun 2003 anggaran diperkirakan sebagai berikut:
Departemen Produksi
Departemen A Rp 9.000.000
Departemen B Rp15.000.000
Departemen Pembantu
Departemen X Rp3.000.000
Departemen Y Rp5.000.000
Jasa yang dihasilkan departemen pembantu dibagikan menurut proporsi sebagai berikut:
Jasa Departemen Dipakai
____________________________________________________
Departemen Pembantu Departemen Produksi
______________________ __________________________
Dept. X Dept. Y Dept. A Dept..B
______________________ __________________________
Jasa Departemen X - 10% 65% 25%
Jasa Departemen Y 20% - 45% 35%
Dari contoh diatas, misalkan:
X = jumlah biaya dept X setelah menerima alokasi biaya dari dept Y.
Y = jumlah biaya dept Y setelah menerima alokasi biaya dari dept X
Sehingga persamaannya adalah:
X = 3.000.000 + 0,20Y
Y = 5.000.000 + 0,10X
Dua persamaan tersebut dapat diselesaikan lebih lanjut sebagai berikut:
X =3.000.000 + 0,20Y
X = 3.000.000 + 0,20 (5.000.000 + 0,10X)
X = 3.000.000 + 1.000.000 + 0,02X
X – 0,02 X = 3.000.000 + 1.000.000
0,98 X = 4.000.000
4.000.000
X = __________ = 4.081.633
0,98
Y = 5.000.000 + 0,10 X
= 5.000.000 + 408.163
Y = 5.408.163
=========
Sehingga alokasi BOP dept pembantu ke dept produksi dilakukan seperti berikut ini:
Departemen Pembantu Departemen Produksi
_____________________________________________________
Departemen X Departemen Y Departemen A Departemen B
BOP langsung dan
Tak langsung
Dept Rp3.000.000 Rp5.000.000 Rp9.000.000 Rp15.000.000
Alokasi BOP
Dept X (Rp4.081.633) Rp 408.163 Rp2.653.061 Rp1.020.408
Alokasi BOP
Dept Y Rp1.081.632 (Rp5.408.163) Rp2.433.673 Rp1.892.857
______________________________________________________
Jumlah Rp 0 Rp 0 Rp14.086.734 Rp17.913.265
=========== ========= =========== ==========
Perhitungan:
2.653.061 = 65% x 4.081.633
1.020.408 = 25% x 4.081.633
2.433.673 = 45% x 5.408.163
1.892.857 = 35% x 5.408.163
selebihnya silahkan hitung sendiri.
Beberapa
dasar penentuan tarif biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut :
1) Atas
dasar satuan produk
Tarif biaya
overhead pabrik yang dibebankan kepada produk, dihitung dengan cara sebagai
berikut
Contoh :
BOP untuk
satu periode, ditaksir sebesar Rp 10.000.000,00 dan taksiran produk yang
dihasilkan pada periode tersebut sebanyak 10.000 unit. Tarif BOP per unit
produksi, dihitung sebagai berikut:
Rp 10.000.000,00 : 10.000 = Rp 1.000,00
2) Atas
dasar biaya bahan baku
BOP yang
dibebankan kepada produk, tarif biaya overhead dapat dihitung sebagai
berikut:
·
Pertama,
hitung persentase pembebanan BOP atas dasar pemakaian biaya bahan baku, dengan
rumus :
·
Selanjutnya,
BOP yang dibebankan kepada setiap unti produk, dihitung dengan cara mengalikan
persentase pembebanan dengan biaya bahan baku per unit produk.
Contoh :
Taksiran BOP
untuk sutau periode, sebesar Rp 60.000.000,00. Biaya bahan baku yang dipakai
pada periode tersebut, ditaksir sebesar Rp 50.000.000,00. Persentase pembebanan
BOP, dihitung sebagai berikut :
(Rp 60.000.000,00 : Rp 50.000.000,00) X 100% = 120% dari biaya
bahan baku
Jika dalam
pelaksanaanya, untuk menyelesaikan suatu produk pesanan menghabiskan biaya
bahan baku sebesar Rp 80.000,00, maka BOP yang bibebankan kepada produk pesanan
tersebut adalah :
120% X Rp 80.000,00 = Rp 96.000,00
3) Atas
dasar biaya tenaga kerja langsung
Jika
sebagian besar dari BOP terdiri dari biaya-biaya yang berhubungan erat dengan
biaya tenaga kerja langsung, maka BOP dibebankan kepada produk atas dasar
pemakaian biaya tenaga kerja langsung. Perhitungan pembebanan BOP kepada
produk, tidak berbeda dengan perhitungan pembebanan BOP atas dasar pemakaian
biaya bahan baku. Dengan rumus :
Contoh :
BOP untuk
suatu periode ditaksir sebesar Rp 60.000.000,00. Biaya tenaga kerja langsung
pada periode tersebut ditaksir sebesar Rp 80.000.000,00. Persentase pembebanan
BOP dari biaya tenaga kerja langsung, dihitung sebagai berikut :
Rp 60.000.000,00 : Rp
80.000.000,00 X 100% = 75%
Jika dalam
pelaksanaanya, untuk menyelesaikan suatu produk pesanan menghabiskan biaya
bahan baku sebesar Rp 120.000,00, maka BOP yang bibebankan adalah :
75% X Rp 120.000,00 = Rp 90.000,00
4) Atas
dasar jam tenaga kerja langsung
Selain atas
dasar pemakaian biaya tenaga kerja langsung, BOP dapat pula dibebankan atas
dasar jam tenaga kerja langsung. Hal ini mengingat bahwa besarnya biaya tenaga
kerja langsung, erat hubungannya dengan banyaknya jam tenaga kerja langsung
yang dipergunakan dalam proses produksi. Tarif BOP per jam tenaga kerja
langsung, dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Contoh :
BOP dalam
suatu periode, ditaksir sebesar Rp 50.000.000,00. Jam tenaga kerja langsung
yang dapat dicapai pada periode itu, ditaksir sebanyak 40.000 jam. Tarif BOP
per jam tenaga kerja langsung, adalah :
Rp 50.000.000,00 : 40.000 = Rp 1.250,00
5) Atas
dasar jam mesin
Pembebanan
BOP dalam suatu periode atas dasar jam mesin digunakan, apabila sebagian besar
BOP terdiri atas biaya-biaya yang berhubungan erat dengan waktu penggunaan
mesin. Tarif pembebanan BOP per jam mesin dihitung dengan rumus sebagai
berikut:
Contoh :
Taksiran BOP
dalam suatu periode berjumlah Rp 50.000.000,00 dan taksiran jam mesin yang
dipergunakan dalam periode tersebut sebanyak 20.000 jam. Tarif BOP per jam
mesin, adalah :
Rp 50.000.000,00 : 20.000 = Rp 2.500,00 per jam mesin
2.4 PENGUMPULAN BOP YANG SESUNGGUHNYA
BOP yang sesungguhnya terjadi dikumpulkan untuk di
bandingkan dengan BOP yang dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang
ditentukan di muka. Selisih yang terjadi antara BOP yang di bebankan kepada
produk atas dasar tarif yang ditentukan dimuka dengan BOP yang sesungguhnya
terjadi merupakan BOP yang lebih atau kurang dibebankan.
2.5
Analisis Selisih Biaya Overhead Pabrik
Selisih
upah langsung adalah perbedaan antara biaya overhead pabrik standar
dengan biaya overhead pabrik sesungguhnya dikeluarkan (aktual). Selisih
overhead membutuhkan analisis yang berbeda dengan biaya manufaktur yang
lainnya karena overhead in terdiri atas berbagai jenis biaya.
Tingkah
laku biaya overhead ini biasa digambarkan sebagai garis lurus, biaya ini
terdiri atas dua komponen yaitu tetap dan variable , yang dirumuskan sebagai
berikut:
Y = a + b X
a = biaya tetap dan b = biaya variabel
Jika
biaya tetap (a) Rp 10.000,00 per bulan dan biaya variable (b)Rp 200 per
unit sementara barang yang diproduksi 400 unit. Maka anggaran BOP adalah :
Y = a + b X
= Rp 10.000,00 + (200) ( 400)
= Rp 90.000,000
dengan demikian, tarif overhead
per unitnya = Rp 90.000,00 /400 = Rp 225,00 per unit
Menghitung Selisih
Overhead Pabrik
Selisih bersih biaya overhead
pabrik terdiri atas dua jenis selisih, yaitu :
Contoh Kasus:
PT Ben Pecah memproduksi berbagai perabot rumah
tangga dari kaca, diantaranya piring. Volume menurut anggaran adalah
4000 unit, akan tetapi dalam relisasinya hanya mencapai 3000 unit.
Tarif biaya overhead Rp 2500,00 per unit. Anggaran untuk biaya tetap adalah
Rp 2.000.000,00 dan Rp 1.500,00 per unit untuk biaya variable. BOP yang
sesungguhnya terjadi adalah Rp. 6.000.000,00. Berapakah selisih BOP yang
terjadi ?
penyelesaiaan
a = Biaya tetap = Rp 2.000.000,00
b = Biaya variable = Rp 1.500,00
X = 3000
BOP anggaran = a + b X
= Rp 2.000.000,00 + (Rp 1.500,00) 3000
= Rp 6.500.000,00
BOP dibebankan = tarif BOP x kuantitas
= Rp 2500,00 X 3000
= Rp 7.500.000,00
= Rp 7.500.000,00 - Rp 6.500.000,00
= Rp 1.000.000,00
Selisih
ini merupakan selisih yang menguntungkan, karena volume produksi aktual lebih
besar daripada volume anggaran
=
Rp. 6.000.000,00 - = Rp 6.500.000,00
=
Rp 500.000,00
Selisih
ini menguntungkan karena BOP aktual lebih kecil daripada dari BOP
anggaran
2.6
|
Perlakuan terhadap BOP yang kurang atau lebih
dibebankan.
Perlakuan terhadap selisih BOP pada akhir tahun tergantung pada penyebab
terjadinya penyimpangan tersebut.Jika selisih BOP disebabkan karena kesalahan
dalam penghitungan tarif BOP,atau keadaan yang tidak berhubungan dengan
efisiensi operasi maka selisih BOP dibagi rata ke dalam rekening-rekening
Persediaan Dalam Proses,Persediaan Produk Jadi dan Harga Pokok Penjualan. Tapi
jika selisih BOP disebabakan karena ketidakefisienan pabrik atau kegiatan
perusahaan di atas atau di bawah kapasitas normal, maka selisih tersebut harus
diperlakukan sebagai pengurang atau penambah rekening Harga Pokok Penjualan.
Contoh:
Misalkan dari contoh diatas, saldo rekening-rekening persediaan dan harga
pokok penjualan pada akhir tahun sebagai berikut:
Persediaan Produk dalam Proses Rp 400.000,-
Persediaan Produk Jadi Rp 600.000,-
Harga Pokok Penjualan Rp 7.000.000,-
-------------------
Jumlah Rp 8.000.000,-
Maka bagaimanakah perlakuan selisih yang jumlahnya Rp 200.000,- itu, mari
kita pelajari.
I Selisih BOP dibagikan ke rekening-rekening Persediaan dan Harga Pokok
Penjualan.
Tabel Pembagian Selisih BOP ke Rekening-Rekening Persediaan dan Harga Pokok
Penjualan.
Nama
Rekening Penyesuaian
Saldo per 31Des Saldo Setelah Penyes.
Selisih BOP Rp200.000,-
Persediaan
Prod (4/80) x Rp200.000,-
Dlm Proses =
Rp10.000,- Rp 400.000,- Rp 410.000,-
Persediaan
(6/80) x Rp200.000,-
Prod Jadi =
Rp15.000,- Rp 600.000,- Rp 615.000,-
Harga Pokok
(70/80) x Rp200.000,-
Penjualan = Rp175.000,- Rp7.000.000,- Rp7.175.000,-
-------------------- ------------------- ------------------
Rp200.000,- Rp8.000.000,- Rp8.200.000,-
Jurnal untuk membagikan selisih BOP atas dasar perhitungan tersebut diatas
sebagai berikut:
Persediaan Produk Dalam Proses Rp 10.000,-
Persediaan Produk Jadi Rp 15.000,-
Harga Pokok Penjualan Rp175.000,-
Selisih BOP Rp200.000,-
II.Selisih BOP diperlakukan sebagai pengurang atau penambah rekening
Harga Pokok Penjualan maka jurnalnya akan nampak sebagai berikut:
Harga Pokok Penjualan Rp200.000,-
Selisih BOP Rp200.000,-
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
biaya
overhead pabrik (BOP) adalah biaya produksi yang tidak langsung terhadap
produk. BOP merupakan biaya produksi yang tidak masuk dalam biaya bahan baku
maupun biaya tenaga kerja. contoh biaya BOP adalah biaya yang timbul dari
pemakaian bahan penolong, pengawas mesin produksi, mandor,sewa,pajak, asuransi,
depresiasi, penerangan tenga (listrik) yang digunakan untuk fasilitas produksi.
DAFTAR
PUSTAKA
Modul
Akutansi 3A untuk SMK dan MAK penerbit Erlangga
http://somanyblog.blogspot.co.id/2007/02/biaya-overhead-pabrik.html
Komentar
Posting Komentar